Tugas Bahasa Indonesia | Tik Tik Kartika XII IPA 4
Kehilangan Mama
Oleh : Tik Tik Kartika
Dahulu ketika aku yang masih remaja tinggal di rumah sederhana di sebuah pedesaan. Tentu tidak tinggal sendiri ada nenek dan mamaku, jika bertanya papamu kemana? papa dan mama sudah lama bercerai, setelah itu papa menikah lagi. Tapi, hidupku terasa baik-baik saja karena ada nenek yang baik dan mama pekerja keras, kami hidup bahagia waktu itu. Pesawahan yang ada hampir di sekeliling rumah menambah sejuk rumah kami.
Mama sempat menikah lagi namun rumah tangganya kembali gagal, makanya hanya ada kami bertiga. Pernikahannya hanya bertahan 7 tahun saja.
Sore itu, aku ingat waktu mama dan aku sedang makan bakso bersama, mama berbicara kepadaku dengan wajahnya yang bersungguh-sungguh.
"Mama akan berusaha memperbaiki semuanya dan akan fokus menyayangi anak mama saja ya". Itu kata mama.
Aku pikir mama benar akan memenuhi perkataannya, tapi ternyata tidak, mama bertemu dengan laki-laki yang baru dia kenal dan memutuskan menikah. Ujung-ujungnya mama masih sama, seperti papa. Kemudian hubungan kami sempat renggang, tidak hanya itu saja ternyata laki-laki baru yang mama temui memiliki dua orang anak dari pernikahan sebelumnya, hingga akhirnya bercerai dan bertemu mama.
Iya, mama memiliki dua orang anak sambung. Mama akan memiliki dua orang anak lainnya, dan aku akan memiliki banyak saudara, aku pikir aku akan senang. Diluar dugaan laki-laki itu membawa mama pergi ke rumahnya sendiri. Tanpa aku, jadi sekarang hanya ada aku dan nenek saja.
Sudah lama mama pergi, sekarang aku sudah dewasa. Tapi mama belum berkunjung ke rumah sejak kepergiannya. Selang waktu, hingga suatu saat mama datang berkunjung, kami sempat berbincang sedikit.
"Ini benar mamaku? Mamaku sayang". Kali ini mama terlihat kurus dan kusam.
"Iya nak, ini mama". Dia tertawa kecil, menatapku dan memelukku.
"Kenapa mama baru datang sekarang? aku kangen". Aku merengek seperti anak kecil, entah apa yang ada di benak mama saat melihatku setelah lama berpisah.
"Sabar ya, ini cuma sementara mama akan kembali, mama ada kalau kamu butuh, walaupun jauh do'a mama akan selalu menyertai. Jadi titip nenek disini". Matanya sendu menatapku.
Hanya itu, sebelum dia pergi kembali ke rumah barunya. Dan sejak saat itu juga hubungan kami kembali membaik. Sekarang hanya aku dan nenek, kami hidup sederhana dan bahagia. Andai saja mama masih disini menemani kami, rumah ini tidak akan sepi dan sunyi.
Awalnya aku sedih dan marah, kenapa mama tega meninggalkanku sedangkan aku masih sangat memerlukannya, tapi aku tidak berani untuk membencinya. Dari dulu aku terbiasa seperti seekor itik yang terus menerus mengikuti induknya, seperti itulah, aku bagai seekor itik yang hilang arah karena kehilangan induknya. Aku kehilangan mama.
Namun tidak ada yang bisa aku lakukan, aku tidak bisa memaksanya bersamaku itu egois. Semua orang bilang masih ada banyak hal yang bisa aku syukuri tapi apa dayaku jika pedih dan berat beban yang kubawa kadang membuatku lelah. Kadang aku membenci orang yang malah membandingkan sedihku dengan sedihnya saat aku bercerita, karena aku tidak memerlukannya. Aku hanya sedang ingin didengar, bukannya beradu nasib.
Semua hal yang sudah aku lewati mungkin berpengaruh terhadap sikap, dan sifat yang aku miliki. Namun sekuat tenaga juga aku bertahan dan membangun diriku yang baik dan memiliki cita-cita tinggi supaya tidak disebut lemah, tidak berguna. Ya, walaupun masih banyak kurangnya.
Aku dan nenek tetap berdo'a supaya mama tetap bahagia dengan keluarga barunya. Mama bilang aku boleh sesekali mengunjunginya jika ingin. Sekarang nenek yang mengambil peran mama.
Seluruh kejadian dalam hidup ini aku jadikan pelajaran hidup, mau bagaimanapun mama yang melahirkanku dia sempat menghidupiku dan berjanji akan menyayangiku sampai kapanpun. kasih ibu sepanjang masa, orang tua juga manusia. Jadi maafkanlah jika kadang buat kecewa.
______________
Komentar
Posting Komentar